Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 25 Oktober 2010

sejarah perkembangan filologi


BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Bagi masyarakat umum mungkin istilah filologi merupakan sebuah istilah asing. Hal ini mungkin saja terjadi karena minat generasi muda untuk mengenal dan mempelajari filologi sangat kurang. Salah satu indikatornya adalah kurangnya jumlah ahli dibidang filologi. Saya juga baru mengenal dan mendalami filologi saat mendapat kesempatan mengikuti program magister museologi angkatan ke-V. Filologi selama ini lebih dikenal sebagai studi tentang masa lampau.  Namun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, orang mulai melirik filologi sebagai satu disiplin ilmu yang sangat penting karena cakupan ilmunya sebagai mutlidisipliner semakin menantang para peneliti untuk memahami lebih mendalam tentang objek yang diteliti.
Filologi mengkaji karya tulis, dalam hal ini karya sastra klasik, yang merupakan peninggalan leluhur atau nenek moyang. Dalam pengkajian karya sastra tersebut dibutuhkan ilmu pengetahuan yang mendalam baik dari segi kebahasaan, kesusasteraan, maupun kebudayaan.
Teks-teks peninggalan sejarah banyak menyimpan dan mengandung pengetahuan. Pengetahuan menjadi core bagi perkembangan peradaban dan kebudayaan disuatu daerah. Adanya kebiasaan untuk menulis ke dalam teks melalui berbagai media menjadikan suatu pengetahuan atau kebudayaan bisa dilestarikan pada generasi berikutnya. Tulisan yang ada pada teks merupakan bahasa lokal yang digunakan sebagai alat komunikasi komunitas untuk berinteraksi.
Bahasa tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan filologi. Bahasa menjadi kunci dari perkembangan filologi karena filologi menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengetahui kebudayaan suatu bangsa, terutama bahasa yang dipakai dalam naskah. Untuk memahami filologi dengan baik, sejarah perkembangan filologi menjadi sangat penting untuk diketahui.
Faktor kebahasaan tersebut menjadi sebuah tantangan tersendiri yang sangat menarik untuk dipecahkan. Untuk memecahkan sebuah naskah yang terkendala akan bahasa yang tidak diketahui, maka diperlukan pengetahuan tentang filologi dan perkembangannya agar kita bisa memahami teks tersebut dengan baik.
Karya sastra atau naskah yang menjadi kajian filologi kebanyakan naskah kuno yang berada di museum, namun masih ada pula yang tersimpan di pesantren, masyarakat sebagai peninggalan atau warisan nenek moyang mereka. Ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat tidak tertarik untuk memahami atau mempelajari karya sastra tersebut. Faktor tersebut ialah persoalan kebahasaan, faktor pengetahuan dan keinginan masyarakat yang kurang tentang sebuah naskah. Disinilah peranan filologi dalam usaha menginterpretasi karya sastra tersebut.
Setelah mampu memahami bahasa yang terkandung di dalam teks, pengembangan terhadap informasi budaya dan khasanah pengetahuan dapat dilakukan. Disinilah letak dan peran filologi dalam melahirkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang baru.




2.      Identifikasi Masalah
Merujuk dari latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat diidentifikasi masalah yang perlu menjadi perhatian adalah
1.      Mengapa ilmu filologi penting sebagai batu loncatan lahirnya ilmu-ilmu lain?
2.      Bagaimana sejarah perkembangan filologi dimulai dari daerah Eropa daratan sampai di kawasan Nusantara?

3.      Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini untuk
1.      Menerangkan mengapa ilmu filologi penting sebagai batu loncatan lahirnya ilmu-ilmu lain
2.      Menjelaskan sejarah perkembangan filologi dimulai dari daerah Eropa daratan sampai di kawasan Nusantara
Tujuan penulisan diatas akan dijelaskan dan terangkum didalam satu bab yaitu Sejarah Perkembangan filologi. Pada Bab tersebut, penulis akan memberikan uraian yang jelas kepada pembaca.








BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN FILOLOGI

Bahasa dipakai di dalam naskah sebagai alat untuk mengetahui kebudayaan suatu bangsa. Pada umumnya, asal ilmu pengetahuan pada zaman modern ini dapat ditelusuri dari bangsa-bangsa zaman kuno yang telah terkenal kemasyhurannya. Filologi menggunakan bahasa sebagai alatnya untuk mengetahui kebudayaan suatu bangsa, terutama bahasa yang dipakai dalam naskah. Bahasa yang dipakai dalam naskah dianggap sebagai bahasa “mati” yaitu bahasa yang hanya terdapat dalam kitab dan dan tidak dipergunakan lagi dalam masyarakat. Dalam istilah lain disebut bahasa “archais” (bahasa kuno). Bahasa yang archais inilah yang menjadi objek penelitian filologi.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka perkembangan filologi tak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan bahasa dalam arti yang luas. Pentinya ilmu filologi akan dijelaskan untuk memberikan gambaran tentang pentingnya ilmu filologi sebagai batu loncatan lahirnya ilmu-ilmu baru, motif mempelajari naskah kuno, dan sejarah perkembangan ilmu filologi itu sendiri.
A.    Filologi di Daerah Eropa Daratan
1.      Awal Pertumbuhan Filologi
Bangsa Yunani telah melakukan kegiatan filologi pada abad  ke-3 S.M tepatnya di kota Iskandariah. Kegiatan yang dilakukan antara lain membaca naskah-naskah Yunani lama, yang ditulis pada daun papirus yang berisikan rekaman tradisi lisan yang mereka miliki sejak zaman sebelumnya. Kegiatan membaca dan penelaahan naskah dilakukan oleh para ahli yang bekerja di Pusat ilmu pengetahuan karena pada abad ke- 3 S.M di kota Iskandariah telah terdapat Pusat ilmu pengetahuan yang para ahlinya berasal dari sekitar laut Tengah terutama bangsa Yunani dan bangsa dari daratan Eropa Selatan.
Pusat studi untuk meneliti, membaca, dan menelaah teks menyerupai perpustakaan yang banyak menyimpan sejumlah besar naskah berupa daun papirus yang bergulung  dan  berisi berbagai ilmu pengetahuan, filsafat, hukum, sasta, karya sastra, ilmu kedokteran, ilmu perbitangan dan lain-lain yang merupakan miliki bangsa Yunani lama. Perpustakaan itu menepati bangunan yang dinamakan  museum yaitu sebuah kuil tempat untuk memuja 9 orang dewi Muze, dewi kesenian dan ilmu pengetahuan dalam mitologi Yunani. Para penggarap naskah-naskah tersebut kemudian dikenal dengan ahli Filologi. Disinilah letak pentingnya ilmu filologi sebagai batu loncatan lahirnya ilmu-ilmu lain.
Para ahli filologi pada zaman itu benar-benar memiliki ilmu yang sangat luas. Mereka terlebih dahulu harus mengenal hurufnya, bahasanya dan ilmu yang dikandungnya untuk memahami isi naskah. Setelah dapat membaca dan memahami isinya mereka menulisnya kembali dengan huruf dan bahasa (teks) yang digunakan pada masa itu. Para ahli meneliti naskah dalam bentuk gulungan papirus yang memuat filsafat, kedokteran, perbintangan dan karya sastra Homerus, Plato, Menander, Herodo­tus, Hippocrates, Socrates, dan Aristoteles. 
Metode awal yang dilakukan ialah memperbaiki huruf, bacaan, ejaan, bahasanya, tata tulisanya kemudian menyunting dalam keadaan yang mudah dibaca, dimengerti, bersih dari kesalahan-kesalahan, kadang-kadang diberi komentar atau tafsiran serta penjelasan secukupnya. Mereka menguasai ilmu dan kebudayaan Yunani lama yang dikenal dengan mazhab Iskandariah. 
Dalam perkembangan ini, filologi  memiliki tujuan utama untuk penggalian ilmu pengetahuan Yunani  lama. Disamping tujuan tersebut, kegiatan Filologi juga sebagai kegiatan peradagangan artinya naskah-naskah yang berisikan tentang ilmu pengetahuan dan tradisi lisan disalin oleh para budak Belian, selanjutnya dijual kepada yang membutuhkan. Pada penyealinan ini seringkali mengalami  penyimpangan-penyimpangan (tidak setia) dari bahan yang disalin. Salinan-salin yang mengalami penyimpangan tersebut disalin lagi oleh orang-orang yang membutuhkan sehingga semakin banyak pula naskah-naskah yang kebenaranya jauh dari teks aslinya.
Pada tahap selanjutnya kegiatan filologi  berpindah ke Eropa Selatan setelah Iskandariah jatuh kedalam kekuasaan Romawi. Kegiatan ini pun masih melanjutkan kegiatan mashab Iskandariah. Akan tetapi setelah pecahnya Romawi menjadi Romawi barat dan Romawi timur pada abad ke 4 Masehi sangat mempengaruhi kegiatan filologi mashab Iskandariah.



2.      Filologi di Romawi Barat dan Romawi Timur
2.1.Fillologi Romawi Barat
Mengikuti mazhab Iskariyah sampai masuknya agama kristen di Romawi, pada masa ini dimulai kegiatan filologi menelaah buku keagamaan, tidak hanya puisi dan prosa Cicero dan Varro. Tulisan latin ini kemudian dikembangkan dikerajaan Romawi Barat menjadi menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Setelah terjadi kristenisasi, kegiatan filologi diarahkan pada penelaahan naskah-naskah keagamaan oleh para Pendeta. Akibatnya naskah-naskah Yunani ditinggalkan sehingga  telaah teks Yunani menjadi mundur dan kurang dikenal lagi.
Perkembangan selanjutnya adalah bahwa kegiatan filologi dalam abad ke 4,  teksnya telah ditulis dalam bentuk buku yang disebut Kodex (naskah dapat memakai halaman dan mudah dibaca), dikenal pula  dengan nama perkamen yaitu dan menggunakan bahan kulit binatang (terumama kulit Domba), karena lebih bertahan lama dari pada bahan papirus
2.2.Filologi Romawi Timur
Pusat kajian filologi di Romawi Timur tersebar di Antioch, Athena, Iskandariyah, Beirut, Konstantinopel, dan Gaza, masing-masing dengan spesialisasinya.  Iskandariyah mengutamakan studi filsafat Aristoteles, Beirut bidang hukum. Pusat-pusat studi tersebut berkembang menjadi Perguruan Tinggi yaitu lembaga yang telah menghasilkan tenaga ahli dalam bidang pemerintahan, pendidikan dan administrasi.
Kegiatan filologi yang dilakukan adalah kebiasaan menulis tafsir terhadap isi naskah pada tepi halaman atau disebut Scholia. Akan tetapi pada saat telaah teks Yunani berkembang dirasakan kurangnya ahli dalam kegiatan itu, maka bermunculan mimbar-mimbar kuliah  filologi di Perguruan Tinggi untuk mendapatkan ahli-ahli Filologi
3.      Filologi di Zaman Renainsance
Zaman renaisans merupakan kebangkitan kembali filologi Yunani yang telah lama ditinggalkan. Kajiannya tetap berpijak kepada kri­tik teks dan sejarahnya, seperti karya Lovato Lovati (1241-1309), Lorensi Vallo (1407-1457), den Angelo Poliziano (1454- 1494), keti­ganya dari Italia.  Setelah jatuhnya Bizantium ke tangan Turki kegiatan filologi berpindah ke Selatan seperti Roma, mereka menjadi penyalin naskah atau pengajar. 
Namun Penemuan mesin cetak oleh Gutenberg dari Jerman pada abad ke-15 menyebabkan perkembangan baru dalam bidang filologi. Kegiatan ahli filologi pada zaman ini adalah menyalin naskah, menulis naskah dan mengkaji secara cermat serta kritik teks yang telah disempurnakan dengan menghadirkan lebih banyak naskah. Naskah-naskah yang telah dikaji secara cermat kemudian diperbanyak dengan menggunakan mesin cetak . Sehingga terbitan teks dangan mesin cetak menjadi lebih banyak dan penyebaranya pun bertambah, dengan demikian kekeliruan yang banyak terjadi pada penyalinan berulang pada teks menjadi lebih sedikit.
Dalam perkembangan selanjutnya, di Eropa kegiatan ilmu filologi juga diterapkan untuk telaah naskah lama non klasik seperti naskah Germania Romania. Ahli filologi perlu mempelajari bahasa-bahasa tersebut. Dengan demikian saat  itu pengertian filologi menjadi kabur dengan ilmu bahasa yang menelaah teks untuk mempelajari bahasanya. Sehingga pada abad ke 19 ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri sedangkan pada abad ke 20 filologi di Eropa Daratan tetap menelaah teks klasik sementara di kawasan anglo-sakson berubah menjadi linguistik.

B.     Filologi di Kawasan Timur Tengah
Sejak abad ke-4 di Timur Tengah telah berdiri perguruan tinggi, pusat studi berbagai ilmu pengetahuan yang berasal dari Yunani, seperti Gaza sebagai pusat ilmu oratori (oratory), Beirut dalam bidang hukum, Edessa dalam ke­budayaan Yunani pada umumnya, demikian di Antioch. Pada abad ke-5 terjadi perpecahan gerejani di Edessa, banyak ahli filologi yang pindah ke kawasan Persia, mereka diberi kedudukan ilmiah di Akademi Jundi Syapur, pusat studi ilmu filsafat dan ilmu kedokteran oleh Kaisar Anusyrwan.  Dengan lembaga ini ilmu pengetahuan berkembang pesat termasuk pengkajian naskah.
Pada masa Dinasty Abasiyah, Pusat studi naskah dan ilmu pengetahuan Yunani makin berkembang. Di dalam istana terkumpul sejumlah ilmuan dari negara lain. Mereka didirikan pusat studi yang diberi nama Al-Hikmah (lembaga kebijaksanaa). Dalam lembaga itu pula terdapat 3 penerjemah dalam bahasa Arab. Salah satu yang paling luas ilmu pengetahuannya adalah Hunain bin Ishaq. Hunain selalu menyusun daftar naskah Yunani lama yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Siria dan bahasa Arab, disamping itu disusun pula daftar naskah Yunani yang belum diterjemahkan. Hunain melakukan Kritek Teks, dalam menggunakan sebanyak mungkin naskah yang dapat dijangkau, dengan demikian dapat diketahui metode filologi yang dapat dipergunakan pada waktu itu (abad 9) khusunya di kawasan Timur Tengah. Selain melakukan telaah naskah-naskah Yunani, para ahli filologi di kawasan Timur Tengah juga menerapkan teori-teori filologi terhadap naskah-naskah yang dihasilkan oleh penulis dari daerah itu.
Kedatangan bangsa Barat di kawasan Timur Tengah membuka kegiatan filologi, kandungan naskah sebelum Islam yang sudah terkenal dan tinggi nilainya  sangat diminati oleh ahli orientalis Barat, kajian filologi budaya ketimuran berkembang dipusat kebudayaan ketimuran di kawasan Eropa. Karenanya banyak teks yang diteliti oleh mereka serta banyak naskah yang mengalir ke Pusat Studi dan koleksi naskah di Eropa. Ilmu pengetahuan Yunani yang  diserap oleh bangsa Arab kembali masuk ke Eropa dengan baju Islam dan banyak pula karya sastra Arab dan Persia dikenal di Eropa kemudian dikaji dipusat ilmu penelitian di negara-negara Eropa, selanjutnya dijadikan bahan kuliah dan penelitian yang menarik. Di antara penulis itu adalah alfarabi, Ibnu sina, mba simon, Niwayan, Alghazali dan lain-lain.

C.    Filologi di Kawasan Asia: India
Semenjak bangsa ini mengenal huruf, sebagian besar dari kebudayaan mereka ditulis dalam bentuk naskah yaitu suatu jenis dokumen yang memberi banyak informasi mengenai kehidupan mereka pada masa yang lampau. Di antara bangsa Asia yang dianggap cukup memiliki dokumen peninggalan masa lalu adalah India. Hal itu terungkap dari berbagai penelitian terutama penelitian terhadap dokumen berupa tulisan seperti prasasti dan nasaka-naskah
1.      Naskah-Naskah India
Naskah-naskah  India yang dianggap paling tua adalah kesusateraan Weda (kitab suci agama hindu). Kitab Weda berisikan kepercayaan kepada dewa, penyembahan terhadap dewa, mantra-mantra yang mengiringi upacara keagamaan Hindu dan ilmu sihir. Kitab Weda terbagi atas empat yakni  Ringweda, Samaweda, Yajurweda dan Atarwa-weda. Kitab tersebut diperkirakan pada abad ke 6 S.M. Setelah selesai periode Weda maka munculah naskah lain yang berisi kitap suci Brahmana (Cerita mengenai pencipta dunia dan isinya), Kitab Aranyaka (berisi petunjuk bagi petapa yang menjalani kehidupan dalam hutan-hutan), dan Kitab Upanisad (berisi masalah filsafat yang memikirkan tentang dunia). Di samping naskah-naskah yang bernafaskan agama, terdapat pula naskah lama India yang berisi Wiracarita misalnya Mahabarata dan ramayana, dan lain-lainnya.
2.      Telaah Filologi Terhadap Naskah-Naskah India
Naskah-naskah India mulai digarap setelah kedatangan bangsa Barat. Bahasa Sanskerta ditemukan awal abad 19 sebelumnya telah dikenal bahasa daearah, pada akhir abad 19 ditemukan kitab weda.  Hasil kajian filologi naskah dipublikasikan oleh Abraham Roger (Belanda) berjudul Open Door to Hidden Heathendom tahun 1651. Bernier (1671) dan Tafernier (1677) tentang geografi, politik, adat istiadat, serta kepercayaan bangsa India.  Tatabahasa Sansekerta pertama ditulis oleh Hanxleden dalam bahasa Latin diter­bitkan di Roma tahun 1790.
Pada akhir abad ke-19 Kitab-Kitab Weda ditemukan. Hasil kajian filologi terhadap naskah tersebut kemudian dipublikasikan oleh seorang Belanda bernama Abraham Roger, selanjunya terbit lagi karangan dua orang Prancis bernama Bernier (1671) dan Tafernier(1677). Mengenai geografi, politik, adat istiadat serta kepercayaan bangsa India. Tata Bahasa sansekerta mula-mula ditulis oleh seorang pendeta berbangsa Jerman dalam bahasa latin, karangan tersebut diterbitkan di Roma oleh seorang penginjil berbangsa Austria.  Kemudian bangsa Inggris pada abad 18 melakukan kegiatan filologi di India dengan menyusun kitab hukum berdasarkan hukum yang ditulis dalam naskah-naskah lama bangsa India.
Pada awal abad ke19 Alexander Homilton (Inggris) dan Frederich Schlegel (jerman) dipandang sebagai ahli yang memajukan studi naskah-naskah sansekerta di Eropa, sementara August( kakak Frederic) adalah orang pertama yang memberikan kuliah bahasa sansekerta di Born Jerman Barat. Hingga pertengahan abad ke 19 telah banyak dilakukan telaah terhadap karya sastra klasik di India serta sastra epik. Perkembangan filologi di India telah dipandang lengkap semenjak tahun 1980 yaitu  banyak dilakukan kajian sastra klasik secara ilmiah, dan diterbitkan naskah-naskah dengan kritik teks.
D. Filologi di Kawasan Nusantara
Kekayaan Nusantara akan naskah lama dibuktikan dengan jumlah koleksi yang terdapat di berbagai pusat studi kebudayaan Timur.
1. Naskah Nusantara dan Para Pedagang Barat
Pengkajian naskah Nusantara dimulai  saat kehadiran bangsa Barat, naskah Nusantara sempat menjadi komoditas dagang, mereka mengumpulkan dari perorangan atau lembaga seperti pesantren dan kuil kemudian dijual pada perorangan atau lembaga pengumpul naskah, sehingga selalu berpindah tangan.
 Peter Florls atau Pieter Willemsz van El­binck menjual naskahnya kepada Thomas Erpenius, seorang orientalis kenamaan dari Leiden (1584-1624). Erpenius sendiri tidak berminat mengkaji naskah Nusantara,  tahun 1632 koleksi  masuk ke perpustakaan Universt­tas Oxford. Edward Pococke, pemilik naskah Hikayat Sri Rama tertua; serta William Laud, uskup besar dari Can­terbury, menghadiahkan koleksi naskah Nusantaranya kepada perpustakaan Bodleian di Oxford.  Frederick de Houtman, menerbitkan Spraeck ende Woordboeck, inde Maleysche inde Madogaskarsche TaLen tahun 1603. diterjemahkan dalam bahasa Latin, Inggris, dan Prancis. Di zaman VOC usaha mempelajari bahasa-bahasa Nusantara hampir terbatas pada bahasa Melayu,
2. Telaah Naskah Nusantara oleh Para Penginjil
Pada tahun 1629, terbitlah terjemahan Alkitab yang pertama dalam bahasa Melayu karya Albeit Comelisz, Dr.Melchior Leijdecker (1645-1701) penginjil yang menaruh minat pada ­naskah Melayu.  1691 Dewan Gereja Belanda Leijdeeker memerintahkan penyusunan terjemahan Beibel dalam bahasa Melayu tinggi. Kedudukan bahasa Melayu menjadi penting pada masa ini karena dengan bahasa tersebut orang-orang Belanda dapat berkomunikasi dengan pribumi.
Pada waktu kedudukan VOC melemah dukungan pemerintah terhadap filologi Nusantara berkurang, perannya diambil alih oleh Zending dan Bijbelgenootschap. Pada tahun 1831 diterbitkan terjemahan Alkitab dalam huruf Jawa karya G. Bruckner, dia juga menulis buku tata bahasa Jawa Proeve eener Java rtaasche Spraakkunst yang dicetak pada tahun 1930, tahun 1842 terbit kamus Bruckner berjudul Een kiein uxoordenboek der Hol­landsche, Emgelsche en Javaansche Talen.
Nederiandsche Bybelgenootschap (NBG) mengharuskan penyiar dan penerjemah Alkitab yang akan dikirim ke Indone­sia memiliki pendidikan akademik. Ke daerah diluar bahasa Jawa dan Melayu NBG juga menugaskan  A. Hardeland untuk daerah berbahasa Dayak(Kalimantan), H.N. van der Tuuk, Bali dan  Batak, B.F. Matthes, Bugis dan Makasar, G.J. Grashuis, D. Koorders, dan S. Coolsma ke daerah Sunda, serta L.& Den­ninger ke kepulauan Nias. 
Para penginjil ini juga mengadakan penelitian dan ka­jian ilmiah terhadap dokumen dan naskah-naskah yang menggu­nakan bahasa daerah tempat mereka bertugas  dan menghasilkan karangan ilmiah dalam naskah bahasa setempat, termasuk teks lisan juga ada yang mereka salin ke Bahasa Belanda seperti yang dilakukan N. Adriani dan Kruijt di Toraja.
3. Kegiatan Filologi terhadap Naskah Nusantara
Peneliti dan ahli filologi Inggris John Leyden, J. Logan, W. Marsden, Thomas Stamford Raffles, dan J. Crafurd, R.J. Wilkin­son, R.O. Winstedt, dan Shellebear serta kenal Hans Overbeck dari Jerman juga berkerja di Indonesia. Hasil suntingan umumnya berupa penyajian teks dalam huruf aslinya, huruf Jawa, pegon, atau huruf Jawi, disertai pengantar singkat, tanpa analisis isi, misalnya suntingan Ramayana Kakawin oleh H. Kern (1900), Syair Bidasari oleh van Hoevell (1843), Geschiedenis van Sri Rama oleh Roorda van Eysinga (1843), dan Een Javaansche geschrif uit de 16de eeuw oleh J.G.H. Gunning.    
Perkembangan selanjutnya, naskah itu disunting dalam bentuk transliterasi dalam huruf Latin, misalnya Wrettasanfa (1849), Ardjoena-Wiwaha (1850) dan Bomakawya (1850) oleh R.Th:A.Fiiederich, Brata Joeda (1850) oleh Co­hen Stuait. H.H.Juynboll menghasilkan beberapa suntingan teks Ma­habharata berjudul Adiparwa, Oud Javaanische prozageschrift (1906) dalam transliterasi Latin serta suntingan disertai terjemahan berjudul Drie Boeken van het Oud- Javaansche Mahabharata in Kawi­ Teks en Nederlandsche vertaling (1893).
Suntingan naskah yang diterbitkan pada abad ke 20 umumnya disertai terjemah­an dalam bahasa Inggris atau Belanda, bahkan yang diterbitkan hanya terjemahannya, misalnya Sejarah Melayu oleh Leyden (1821) dan C.C.Brown berjudul The Malay Annals (1952), Hikayat Hang Tuah oleh H.Overbeck berjudul Hikayat Hang Tuah (1922).
Suntingan naskah dengan metode kritik teks, yang banyak di­lakukan pada abad ke 20, menghasilkan suntingan yang lebih baik dari sebelumnya. Terbitan jenis ini banyak yang disertai terjemahan dalam bahasa Belanda, Inggris, atau Jerman Suntingan berdasarkan pendekatan filologi tradisional ini antara lain Het Boek der Duizend Vragen oleh G.F. Pijper (1924) berdasarkan naskah Hikayat Seribu Masalah, Shair Ken Tambuhan oleh Teeuw (1966), Hikayat Merong Mahawangsa oleh Siti Hawa Saleh (1970), Arjunawijaya ,S. Supomo (1977), Jnanasiddhanta, Haryati Soebadio.(1971).
Pada abad ke-20 diterbitkan kembali naskah yang pernah disunting dengan maksud menyempurnakan, misalnya terbitan sebuah primbon Jawa dari abad ke 16,  oleh Gunning (1881) dengan metode diplomatik, kemudian pada tahun 1921 disunting lagi oleh H. Kraemer dengan judul Ben Javaansche Primbon uit de Zestiende Beuw, dan pada tahun 1954 di­terbitkan lagi oleh G.W.J. Drewes dengan judul yang sama.
Disamping itu juga banyak diterbitkan naskah keagamaan, sehingga isinya dapat dikaji oleh teolog.  Naskah kitab Hamzah Fansuri dikerjakan oleh Naguib Al-Attar dengan judul The Mysticism of Hamzah Fansuri (1970).  Demikian juga dengan naskah sejarah seperti Hikayat Aceh, Sejarah Banjar dan lain-lain, menggunakan pendekatan kritik teks.
Telaah naskah untuk tujuan pembahasan isinya, ditin­jau dari berbagai segi disiplin, ditulis oleh C.A.O. van Nieuwenhuijze berjudul Samsud­din van Pasai (1945) berdasarkan naskah tulisan Samsudin ulama tasawuf Aceh,  J. Doorenbos ber­judul De Geschriften van Hamzah Pansoeri (1933) berdasarkan tuli­san Hamzah Fansuri, P J. van Lecuwen berjudul De Maieische Alexanderroman (1937). Berdasarkan Hikayat Iskandar Zulkarnaen.
Telaah filologi terhadap naskah-naskah daerah di luar Jawa dan Melayu banyak dilakukan antara lain oleh H.T. Damste berjudul Hi­kayat Perang Sabil (1928) berdasarkan naskahnya dalam bahasa Aceh, oleh H.K.J. Cowan berjudul Hikayat Malem Dagang (1937) juga berdasarkan naskah berbahasa Aceh. Kedua suntingan ini berupa transliterasi disertai terjemahannya dalam bahasa Belanda. Naskah berbahasa Sunda telah disunting oleh F.S. Eringa berjudul Loetoeng Kasaroeng, een mythologisch verhaal uit West-Java (1949);  Naskah Bugis adalah J. Noorduyn berjudul Een achttiende eeuwse kroniek van Wadjo (1955). Suntingan naskah berbahasa Madura berjudul Ijarita Brakaj telah dilakukan oleh Vreede (1878) berupa edisi diplomatik. Sebagian dari cerita ini pada tahun 1947 diterjemahkan oleh Teeuw dalam bahasa Belanda berjudul Fragment uit Tjarita Brakaj, terbit dalam Let­terkunde van de Indtsche Archipel suntingan J. Gonda (1947).
Pada periode mutakhir mulai dirintis telaah naskah-naskah Nusantara dengan analisis berdasarkan ilmu sastra (Barat), misalnya analisis struktur dan amanat terhadap naskah Hikayat Sri Rama di­kerjakan oleh Achadiati Ikram berjudul Hikayat Sri Rama, Suntingan Naskah disertai Telaah Amanat dan Struktur (1980), berdasarkan analists struktur dan fungsi terhadap teks Hikayat Hang Tuah dikerjakan oleh Sulastin Sutrisno berjudul Hikayat Hang Tuah,  Analisa Struktur dan FVngsi (1979). Analisis yang sama telah dilakukan oleh Worsley terhadap naskah Babad Buleleng, oleh Ras terhadap naskah Hikayat Bandjar, dan terhadap naskah Hikayat Muhammad Hanaft­yyah oleh Brakel masing-masing pada tahun 1972, 1968, dan 1975.
Tersedianya naskah serta suntingan-suntingan naskah-naskah Nusantara juga telah mendorong minat untuk menyusun kamus ba­hasa - bahasa Nusantara,  bahkan sejak abad ke-19 telah terbit be­berapa kamus bahasa Jawa dan lain-lain.  Kegiatan filologi terhadap naskah-naskah Nusantara telah mendorong berbagai kegiatan ilmiah yang hasilnya telah dimanfaatkan oleh berbagai disiplin teru­tama disiplin humaniora dan ilmu-ilmu sosial. Kegiatan tersebut telah memenuhi tujuan ilmu filologi ialah melalui telaah naskah dapat membuka kebudayaan bangsa dan telah mengangkat nilai-nilaai luhur yang disimpan di dalamnya.











BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

Dari pembahasan di atas, maka disimpulkan sebagai berikut :
  1. Filologi sebagai suatu bidang ilmu adalah suatu studi tentang kajian atau telaah naskah-naskah atau karya sastra masa lampau yang memiliki nilai informatif dengan tujuan untuk mengungkapkan makna dan pesan yang terkandung di dalamnya untuk kepentingan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang
  2. Filologi sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan karena dengan mengetahui ilmu filologi maka banyak ilmu lain yang bisa
Dari kesimpulan di atas, maka dapat diberikan saran bahwa masyarakat umum harus diberikan pemahaman yang baik tentang ilmu filologi. Jika mereka menyimpan atau mengetahui tentang naskah kuno mereka bisa memberitahu kepada ahli filologi atau mereka bisa memperlakukan naskah tersebut dengan lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar